oleh

Pencapaian (tak) Hampa

Aku terduduk di beranda. Ah, sudah terlalu lama aku tinggal di desa. Semoga pandemi ini segera sirna. Aku jenuh, ingin kembali merantau ke ibu kota atau negara lainnya.

Memang manusia, terlalu sering lalai dengan masa. Ketika aku punya banyak waktu, aku sering menjadikannya sia-sia. Seperti sekarang, dalih menyelamatkan dunia dengan rebahan saja membuatku banyak scrolling stories di sosial media, mengintip kehidupan lain di luar sana. Alhasil, aku lupa bersyukur pada Yang Maha Kuasa.

Ketika melihat betapa kerennya mereka dengan segudang prestasi di sana-sini, pasti selalu ada panas hati. Bukan dengki, hanya iri. Tapi, menurutku, iri itu manusiawi. Rasa ini bahkan bisa dijadikan motivasi dan sarana perbaikan diri.

Kadang, aku memang terlalu sering melihat hasil, melewatkan proses jatuh bangunnya. Aku sering lupa, bahwa untuk bisa jadi kendi hias cantik warna warni, tanah liat harus diputar-putar, dilempar dan dipukul berkali-kali. Bahkan harus dibakar dalam api atau berlama-lama dipapar sinar matahari. Apalah daya, mata manusia hanya mampu melihat fenomena dan tak terbiasa dengan noumena.[1]

Terlalu banyak mengiri, aku abai dengan pencapaian sendiri. Padahal, aku adalah penerima beasiswa Amerika dan Turki. Ini juga prestasi. Apalagi, aku hanyalah anak desa yang tumbuh di tengah ladang kopi dan padi. Tidak mudah bagiku untuk sampai ke titik ini. Ada banyak doa, usaha, derita dan cerita dibalik suatu pencapaian.

Namun, ketika banyak orang mengira aku sangat bahagia dengan hasil yang sudah kuterima, ada banyak masa dimana aku tetap merasa hampa. Hati yang masih suka mengirikah? Ilmu yang kurang manfaatkah? Entahlah.

Memang, walaupun saat ini aku tinggal di desa, aku bukan pengangguran yang tidak menghasilkan apa-apa. Mengajar online menjadi kesibukan baruku semenjak pandemi melanda. Meskipun aku di rumah, muridku tersebar dari Singapura, Hongkong, London, New Jersey, sampai Belanda. Alhamdulillah, benar-benar harus disyukuri!

Selain mengajar online, seminggu sekali aku mengunjungi TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Mengajar bahasa Inggris, Turki, Arab, dan bahkan berbagi cerita dan motivasi. Tidak banyak, hanya tujuh hingga sembilan anak. Sejujurnya, aku yang belajar dari mereka, untuk tidak iri dan lebih percaya diri.

Tapi aku tetap saja masih iri. Iri dengan mereka yang percaya diri dan pandai berbicara di depan banyak pemirsa. Aku sering merasa berdosa karena ilmu yang kupelajari sia-sia. Tak mampu aku menyampaikannya. Bukan tak mau, tapi malu. Dadaku berdebar kencang dan nafasku memburu ketika aku harus berdiri dengan microphone di jemari. Aku berbicara seperti kereta, tanpa titik dan koma.

Tapi, di tengah kerinduanku pada ibu kota, aku tak mau menua tanpa usaha. Tak apa, jika aku belum pandai berbicara. Toh, ilmu tak hanya bisa disampaikan dengan suara. Ada pena, yang kata orang bijaksana, lebih tajam daripada pedang. Semoga, platform ini bisa menjadi salah satu media karya. Belajar berbagi ilmu dengan kata. Berharap pencapaianku tak hampa.

Oleh : Nanik Yuliyanti

Catatan Kaki:

[1] Noumena adalah salah satu kutub realitas menurut Immanuel Kant. Pada umumnya, diartikan sebagai sesuatu yang tidak bisa diketahui dan dipahami, bergantung pad acara pandang atau keilmuan dan kepekaan seseorang.

 

 

Komentar

Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Bijaklah dalam memilih kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA. Salam hangat. [Redaksi]

News Feed